Indonesian Boardgame Goes to SPIEL 2017

Bismillah.

Lancar jaya di sana. Banyak cerita baik tentang Indonesia yang bisa dibagi di sana. 

#boardgame #essen #spiel #jerman #manikmaya #hompimpa #indonesia 

Iklan

Cerita Pertama dari UC

Revolutionary Love, Drama Terbaru Choi Si Won Setelah Kembali dari Wamil http://c.uctalks.ucweb.com/detail/8fe58187f513410daed711d13aa34c53?uc_param_str=dnvebichfrmintcpwidsudsvnwpflameefut&stat_entry=app&comment_stat=1&entry1=shareback&entry2=content_More&shareid=bTkwBPmLT4zokYPan2C0hVXLaPTeulxgID%2FyBGeeKNVXWQ%3D%3D

Ini Hal yang Harus Dilakukan Ketika Mengirim Naskah ke Penerbit

Salah satu pekerjaan yang saat ini menjadi hits dan kekinian kalau boleh saya bilang adalah menjadi penulis. Kenapa? Karena saat ini makin banyak orang berlomba-lomba untuk menerbitkan buku. Walaupun sebenarnya menjadi penulis tidak selalu identik dengan menerbitkan buku. Well, itu akan kita bahas kali lain. Saat ini yang akan saya bahas adalah apa saja yang harus kamu lakukan ketika mengirimkan naskah ke penerbit.

Tata cara mengirimkan naskah ke penerbit sebenarnya hampir semua memiliki standar yang sama. Etika yang sama. Umumnya akan sedikit berbeda di bagian teknis saja. Pengalaman saya selama ini ketika menerima berbagai naskah yang masuk, membuat tangan saya “gatal” untuk menuliskan hal-hal di bawah ini.

  1. Kenali Penerbitmu

Ya, sepertinya ini hal yang sepele. Tapi sungguh, yang sepele ini kadang sering kali terlupakan. Seperti halnya ketika kamu ingin pedekate ke cewek atau cowok gebetan kamu, tentunya kamu akan mencari informasi sebanyak mungkin tentang gebetanmu, kan? Apa makanan kesukaannya? Siapa penyanyi favoritnya? Film apa yang suka ia tonton?

Nah, di sini juga berlaku hal yang sama. Cari informasi sebanyak mungkin tentang penerbit yang akan kamu kirimkan naskahnya. Jika penerbit itu berdiri dalam satu grup, mereka punya imprint apa saja? Buku-buku apa saja yang mereka terbitkan. Cari di toko buku. Buka website-nya. Hunting di internet. Datang ke perpustakaan.

Sehingga suatu saat saya tidak akan menerima e-mail seperti ini lagi, “ Mbak, saya suka bikin novel. Di TS menerbitkan novel?”

Hei, kamu akan menyerahkan berpuluh atau beratus tulisan yang keluar dari hatimu, masa kamu nggak mau usaha sedikit?

 

  1. Basa-Basi Itu Kadang Penting

Basa-basi yang saya maksud di sini itu adalah basa-basi ketika kamu mengirimkan naskah ke penerbit. Okay, kamu sudah paham segala macam tentang sejarah penerbit favoritmu. Naskah pun sudah kamu siapkan untuk dikirim. Berbulan-bulan kamu tidak tidur demi menyiapkan “masterpiece” ini. Kamu yakin seyakin-yakinnya bahwa naskah ini nantinya akan langsung diterima dan menjadi best seller. Tapi ternyata, lain harapan lain kenyataan. Naskahmu ditolak. Kenapa? Kamu kurang basa-basi.

Kamu mengirimkan naskah via e-mail tanpa prolog atau pengantar sama sekali. E-mail mu bersih. Hanya berisikan attachment naskah dalam bentuk PDF saja. Ketika PDF itu dibuka pun langsung berhadapan dengan bab 1. Tanpa ba bi bu.

Eh, kamu mengirimkan apa, nih?

Nah, coba untuk sedikit berbasa-basi. Buat perkenalan di badan e-mail. Jelaskan maksud kamu mengirimkan e-mail tersebut. Tulis harapanmu. Orang yang menerima e-mailmu tentu akan lebih merasa senang membacanya.

 

  1. Jangan Asal Copy Paste

Ketelitian itu adalah bagian dari pembelajaran seorang (calon) penulis. Ketika kamu mengirimkan naskah ke penerbit, disertai dengan surat pengantarnya, teliti sekali lagi, apakah benar surat pengantar itu ditujukan ke penerbit yang kamu kirim?

Jangan sampai ketika kamu menuliskan surat pengantar ke Penerbit A, tetapi kamu malah mengirimkannya ke Penerbit Z.

Hei, saya kok super duper yakin  naskah kamu belum sempat dibuka/dibaca, sudah dinyatakan tidak lolos duluan.

 

  1. Jangan Mengirimkan Naskah yang Sama Berulang

Saya tahu kegigihan itu adalah bagian yang tidak terpisahkan dari seorang penulis. Makin gigih seorang penulis, saya akan makin salut dan angkat topi (walaupun saya nggak pakai topi, hehehe).

Namun, penulis yang gigih juga harus pintar. Jangan mengirimkan naskah yang sama berulang kali. Apalagi kalau naskah itu dari awal sudah ditolak oleh penerbit yang bersangkutan.

Saya pernah menerima 3 kali naskah yang sama dalam rentang waktu satu tahun. Dalam pikiran saya saat itu adalah penulis ini gigih sekali atau nggak punya karya yang lain, ya?

Ya, cobalah untuk membuat lebih banyak karya. Makin banyak karya yang kamu buat, akan makin beragam pula tulisan yang kamu kirimkan ke penerbit, kan?

 

  1. Manfaatkan Attachment

Pernahkah kamu membaca atau menerima sebuah novel dalam badan e-mail? Ya, saya pernah. Saya tidak tahu apa yang ada dalam pikiran si pengirim e-mail tersebut. Mungkin aplikasi word-nya sedang bermasalah, sehingga dia harus mengirimkan tulisannya langsung di badan e-mail.

Akan lebih cantik dan manis kalau kamu mengirimkan naskah via e-mail dilampirkan dalam attachment. Bisa dalam bentuk word atau PDF. Jangan repot-repot untuk menuliskannya di badan e-mail. Kalau sampai kejadian seperti itu, saya yakin, naskah sebagus apapun akan terlewat begitu saja.

Kami tunggu karya-karyamu, dan tetap semangat!

Buatlah Ending-mu Sendiri

Salah satu kemampuan seseorang untuk menulis fiksi yang “cetar membahana” adalah daya imajinasi yang luar biasa. Sementara tidak setiap calon penulis bisa dengan mudah mengembangkan daya imajinasinya.

Ada yang “cukup” dengan menonton drama Korea setiap hari sudah bisa mengembangkan imajinasinya hingga bisa membuat buku romance berseri-seri. Ada yang “cukup” travelling ke penjuru Nusantara sudah bisa membuat beratus-ratus halaman cerita fantasi yang mengagumkan. Ada pula yang “cukup” duduk diam di perpustakaan, membaca dengan manis bertumpuk buku referensi, sudah bisa menghadirkan ribuan kisah petualangan dan misteri.

Lalu, bagaimana dengan kamu yang tidak mudah atau kesulitan dengan semua akses itu? Jangan jadikan alasan tersebut menjadi halangan untuk melatih imajinasimu.

Ada cara paling mudah untuk kamu lakukan buat belajar melatih daya imajinasi.

  • Pilih sebuah film atau buku yang kamu sukai. Apa saja. Tidak dibatasi genre-nya.
  • Tonton atau baca sampai selesai.
  • Setelah itu ambil kertas dan tuliskan akhir cerita dari film/buku yang kamu tonton/baca tersebut. Persepsikan dirimu sebagai sang penulis baru. Jangan terpengaruh sama sekali dengan ending yang sudah ada sebelumnya.
  • Lakukan beberapa kali. Percaya, deh, lama-lama kemampuanmu akan makin terasah dengan sendirinya. Dan, pada akhirnya kamu tidak hanya bisa membuat ending-mu sendiri, tetapi juga cerita awalmu sendiri.

Selamat berimajinasi.

Me and My K-Drama

Jalan ceritanya bisa ditebak. Hanya bermodalkan kegantengan aktor dan kecantikan aktrisnya saja. Nggak masuk di logika. Ya, berjuta alasan bisa diucapkan ketika melihat kegemaran saya menonton K-Drama.

Sebenarnya kalau boleh jujur, bukan itu alasan utama kenapa saya begitu menggemari K-Drama.

Ya, memang, terkadang beberapa cerita terkesan tidak masuk akal.

Ya, memang, terkadang beberapa cerita mudah sekali ditebak alurnya.

Ya, memang, aktor dan aktrisnya yang ganteng dan cantik jadi salah satu modal penjualan terbesar di industri itu (bayangkan saja, di Jepang, per episode Descendant of the Sun terjual sampai Rp1,3 M. Hmmm, padahal drama itu ada 16 episode).

Aktor dan aktris yang rupawan itu adalah tambahan bonus buat saya, untuk memanjakan mata, hehehe… Nilai utamanya adalah di chemistry para pemainnya. Terutama pemeran utamanya. Banyak contoh kasus, K-Drama yang dibintangi aktor dan aktris rupawan, sama-sama terkenal, tapi karena chemistry di antara mereka nggak dapat, ya, gagal aja drama itu. Paling nggak di mata saya J.

Jika ada yang protes, alur dan logika cerita K-Drama nggak masuk akal, ya, buat saya, anggaplah itu sekadar hiburan aja. Nggak usah diambil serius. Paling menarik adalah mencermati dialog antar tokohnya. Sungguh, buat saya yang sok melankolis ini, mencerna satu demi satu kalimat-kalimat mereka itu terkadang bikin “jleb” di hati. Di situ terkadang saya salut banget sama penulis ceritanya, sukses bikin hati meleleh dengan kalimat-kalimat yang ajaib. Ahaayyyy….

Nah, di bawah ini adalah beberapa K-Drama yang sampai detik ini masih melekat di hati. Terutama dari ceritanya, kalimat-kalimat yang hadir di sana, dan chemistry di antara pemainnya. Mungkinkah ada yang sama?

 

  1. Hotelier

hotelier

  1. All About Eve

all about eve

  1. Full House

full house

  1. My Princess

my princess

  1. The Heirs

the heirs

  1. Yong Pal

yong pal

  1. Descendant of the Sun

DotS

  1. Oh My Venus

oh my venus

  1. Good Doctor

good doctor

  1. My Love from the Star

my love from the star

  1. That Winter the Wind Blows

that winter the wind blows

  1. Beyond the Clouds

beyond the clouds

  1. Cunning Single Lady

cunning single lady

  1. She Was Pretty

she was pretty

  1. The Time We Were Not in Love

the time we were not in love

  1. Oh My Ghost

oh my ghost

  1. Mask

mask

  1. Divorce Lawyer in Love

divorce lawyer in love

  1. High Society

high society

  1. All About My Mom

all about my mom

  1. Pinocchio

pinoccio

  1. Producer

producer

  1. Secret Garden

secret garden

  1. City Hunter

city hunter

  1. Heartstrings

heartstrings

  1. Innocent Man

innocent man

  1. Bride of the Century

bride of the century

  1. Princess Hours

princess hours

  1. Noble, My Love

noble my love

  1. Prime Minister and I

prime minister and i

  1. Secret Love

secret love

  1. Hyde, Jekyll, Me

hyde jekyll me

  1. Lie to Me

lie to me

  1. Friends

friends

  1. Temptation

temptation

  1. Marriage Without Dating

marriage without dating

  1. Sungkyunkwan Scandal

sungkyunkwan scandal

  1. Faith

faith

  1. Cheongdamdong Alice

cheongdamdong alice

  1. Personal Taste

personal taste

41. Kill Me, Heal Me

kill me heal me

“The best miracles of all miracles is making the heart of the person you love beat.”

 

 

Putri Angka

Gadis Tak Bernama. Itu adalah julukannya.

Tidak pernah ada yang tahu siapa nama aslinya. Semua makhluk yang tinggal di Kota Tema pun hanya mengenal sosoknya sebagai gadis yang manis.

Temannya tak banyak.

Setiap pagi ia hanya disapa oleh seekor kodok yang bermukim tak jauh dari rumah jamurnya.

“KWOKKK… KWOOOOKKK!!!”

Itu artinya adalah ucapan selamat pagi untuk Gadis Tak Bernama.

“Selamat pagi juga teman kodokku tersayang!” balas si Gadis Tak Bernama.

Pada suatu hari, si Gadis Tak Bernama terjaga dari tidurnya. Akan tetapi, bukan karena mendengar sapaan ramah nan riang dari teman kodoknya. Ia terjaga karena mendengar suara berisik seperti teriakan yang memekakkan telinga.

Gadis Tak Bernama mengucek matanya. Ditutup mulutnya ketika masih saja menguap karena mengantuk. “OAHEEEMMM…”

“Tentu saja aku yang paling hebat. Manusia menganggapku sebagai pembawa keberuntungan!”

“Siapa bilang?! Kamu sombong!”

“Tidak! Itu memang benar, kok!”

“Kamu sombong!  Si Sembilan saja yang memang hebat tak pernah sesombong itu!”

“Itu karena memang dia tidak hebat!”

“Siapa bilang?”

“Aku yang bilang!”

“Tuh, kan, kamu sombong lagi! Kamu, kan, tahu sendiri kalau si Sembilan itu istimewa!”

“Aku yang istimewa! Si Tujuh pembawa keberuntungan!”

“Kamu sombong!”

“Tidak! Itu kenyataan!”

“Sombong!”

“Tidak!”

“Hei… Hei… Hei… ada apa ini? Mengapa kalian bertengkar di depan rumahku?” Gadis Tak Bernama berdiri di depan pintu sambil mengerutkan keningnya.

Serentak angka-angka yang saling bertengkar itu terdiam. Pandangan mereka teralih ke sosok gadis manis yang baru keluar dari pintu rumah jamur.

“Siapa dia?”

“Aku tidak tahu.”

“Kamu mengenalnya?”

“Tidak. Mungkin ia teman si Empat.”

“Bukan. Aku juga tak mengenalnya.”

“Lalu siapa dia?”

“Daripada kalian bertengkar, kenapa tak kalian tanyakan saja kepadaku?” lerai si Gadis Tak Bernama.

“Dia benar!”

“Aku tidak mengatakan kalau dia salah.”

“Siapa yang mengatakan kalau kamu salah?”

“Bukan aku.”

“Aku juga bukan!”

“SYUUUUIIINNGGG… … WIIINNGGG… …!!!”

Alunan musik tiba-tiba terdengar membelah keramaian yang kembali terjadi di depan rumah jamur. Angka-angka yang saling beradu mulut itu kembali terdiam. Perhatian mereka kembali teralih ke Gadis Tak Bernama.

“Aku tak suka melihat kalian bertengkar. Apalagi kalian bertengkar di depan rumahku,” kata Gadis Tak Bernama. Dibunyikannya lagi suling yang ada di genggamannya. Setelah beberapa lama, si Gadis Tak Bernama terdiam.

“Aku penasaran. Apa, sih, yang kalian ributkan? Bukankah kalian berteman? Sesama teman, tak harus bertengkar bukan?” tanya Gadis Tak Bernama.

“Kami tak bertengkar.”

“Iya. Kami hanya saling membandingkan siapa di antara kami yang terhebat!”

“Menurutmu, siapa di antara kami yang terhebat?”

“Pasti aku, bukan? Manusia sepertimu sering menganggapku, si Tujuh sebagai angka keberuntungan.”

“Huh! Masih saja sombong! Si Delapan juga dianggap sebagai angka keberuntungan. Tapi tak sesombong dirimu!”

“Hei… Hei… kalian bertengkar lagi!” lerai Gadis Tak Bernama.

“Tahu tidak, kalian semua itu istimewa. Kalian itu sama-sama hebatnya. Semua angka itu berguna. Tak ada yang paling beruntung, atau yang paling istimewa,” terang Gadis Tak Bernama lagi.

Semua angka yang ada di halaman depan rumah Gadis Tak Bernama terdiam. Mereka merenungkan apa yang dikatakan oleh Gadis Tak Bernama.

“Aku rasa dia benar.”

“Yah, yang pasti dia memang tidak salah.”

“Jadi bagaimana?”

“Kita ikuti kata-katanya?”

“Kenapa tidak?”

“Yah, memang tak ada salahnya.”

Angka-angka yang ada di halaman depan rumah jamur terdiam lagi. Lalu, secara serempak mereka berkata, “Kamu benar! Kami tak akan bertengkar lagi.”

Gadis Tak Bernama tersenyum senang. Ia lalu memainkan kembali suling yang ada di genggamannya.

“SYUUUUIIINNGGG… … WIIINNGGG… …!!!”

Angka-angka menari gembira. Semua mengikuti di belakang Gadis Tak Bernama.

Gadis Tak Bernama kini tak kesepian lagi. Selain ucapan selamat pagi yang selalu diterimanya dari si kodok, kini ia mempunyai teman angka-angka yang sangat ceriwis.

Hm, sepertinya julukan Gadis Tak Bernama kini sudah tak pantas disandangnya. Bagaimana jika Putri Angka? Apakah kamu setuju?

oooooOOOooooo

Note:

Dongeng ini kali pertama dipublikasikan di Bee Magazine Tahun III No. 25

Bukan Cerita Malin Kundang

“Tuh, kan! Benar! Pasti dia baru saja mengutuk anak kecil jadi batu!” bisik Bayu.

Selangkah dua langkah diangkatnya kaki perlahan. Dengan rasa penasaran yang membuncah, diintipnya sosok yang dicurigainya itu dari balik pintu.

“Aku harus hati-hati,” bisik Bayu lagi. Kali ini pada dirinya sendiri.

Sembari berjingkat-jingkat meninggalkan tempatnya mengintip, Bayu kembali lagi ke kamarnya.

***

          “Masa?”

          “Yang benar?”

          “Tidak mungkin, ah!”

          “Eh, dikasih tahu kok tidak percaya, sih! Mama baruku itu suka mengutuk anak-anak jadi batu!” kata Bayu yakin.

          “Kalau ngomong jangan sembarangan, deh! Hati-hati! Biar gimana juga dia itu Mama kamu, lho!” nasihat Rio.

          Bayu terdiam. Namun, setelah lima detik berlalu, Bayu tetap bersikukuh dengan pendapatnya.

          “Aku nggak ngomong sembarangan, kok! Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri.”

          “Kalau begitu, kami juga mau lihat dengan mata kepala sendiri,” sambar Muni.

          “Tapi, nanti kalau kita dikutuk jadi batu juga bagaimana?” Lia takut-takut menimpali.

          Keempat anak itu terdiam. Pikiran takut dikutuk jadi batu tiba-tiba saja menghantui mereka.

          “Ah, mana ada zaman sekarang ada yang mengutuk jadi batu! Itu cuma ada di cerita Malin Kundang. Udah, deh, tidak usah percaya yang kayak gituan!” kata Rio memutus lamunan teman-temannya.

          “Kalau begitu, buat apa Mama baruku itu tiap malam selalu pergi ke taman? Apalagi, koleksi patung batu di tamannya selalu bertambah banyak setiap hari. Itu, kan, mencurigakan,” bisik Bayu lirih.

          Rio, Muni, dan Lia hanya berpandangan. Tidak ada yang dapat menjawab pertanyaan Bayu.

***

          “Hatsyiii!!! Hatchuhhh!!!”

Bayu menghapus tetesan cairan yang keluar dari hidungnya dengan kertas tisu. Badannya yang menggigil dipeluknya dengan erat.

“Bayu masih demam?” tanya Mama.

Bayu mendongak. Seraut wajah cantik tersenyum lembut menatap Bayu.

Itu wajah Mama, ehm, maksudnya wajah Mama barunya.

“Bayu dikompres dulu, ya, dahinya, supaya demamnya turun. Setelah itu minum obat lagi.”

Bayu bergeming. Ia masih terpana dengan kata-kata Mama barunya barusan.

Bayu memang sakit. Demamnya tinggi sekali. Mungkin karena terlalu capai. Akibatnya, sekarang Bayu harus dirawat di rumah sakit.

“Bayu masih kedinginan?” Mama bertanya ketika melihat Bayu menggigil.

Bayu hanya menggeleng. Bukan, bukan karena demamnya, Bayu menggigil. Namun, lebih karena perhatian yang diberikan mamanya.

Tanpa sadar air mata menetes ke pipi Bayu.

“Kok Bayu nangis? Apanya sekarang yang sakit?” tanya Mama.

Bayu menggeleng. “Mama nggak akan kutuk Bayu jadi batu, kan?”

Mama mengerutkan keningnya. Bingung.

“Bayu sering lihat Mama di taman depan setiap malam. Trus, Bayu lihat banyak patung batu di taman Mama. Bayu takut Mama akan kutuk Bayu jadi batu seperti dicerita Malin Kundang,” isak Bayu panjang lebar.

Mama terdiam. Selang beberapa detik kemudian ia tertawa lebar. Dengan sayang diucalnya rambut Bayu.

“Bayu, Bayu, tentu saja Mama tidak akan mengutuk kamu. Kamu, kan, anak Mama.”

“Lagipula, setiap malam Mama ke taman itu untuk menyiram tanaman, bukan mengutuk anak-anak jadi batu.”

“Sayang, walaupun Mama bukan Mama kandung kamu, tapi Mama sayang sama Bayu,” senyum Mama.

Bayu balas tersenyum. Dengan lirih ia pun berucap, “Bayu juga sayang Mama.”

00000OOO00000

Note:

Cepen ini kali pertama dipublikasikan di Bee Magazine Tahun III No. 41